Sabtu, 16 Januari 2010

[+PIC]Cimahi, Kota Wisata Sejarah Militer





Cimahi, Kota Wisata Sejarah Militer



Quote:
AIR yang cukup. Demikian arti Cimahi. Makna bagi kota Cimahi, tentu saja sebagai sebuah kota yang berkecukupan air. Dalam sebuah nukilan sejarah tertulis pula bahwa di masa lampau, berabad silam, Cimahi bernama Cilokotot yang berarti enceng gondok namun akhirnya nama Cimahi terasa lebih indah. Dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Haryoto Kunto menyebutkan, Abraham van Riebeeck jadi orang Belanda pertama yang membawa benih kopi ke Pulau Jawa, yaitu awal tahun 1700-an.

CIMAHI, sebuah kota administratif dengan luas sekitar 4.000 hektar di wilayah Kabupaten Bandung Utara, seringkali terlupakan dalam sejarah. Sejarah kota ini tak banyak tercatat, padahal kota ini punya sejarah penting bukan hanya karena Cimahi dilalui jalur "Daendels" Anyer-Panarukan tapi juga bagi dunia militer di masa kolonial. Belanda ingin memusatkan militernya di Bandung, maka disiapkanlah satu kawasan yang jadi pusatnya. Dan itu adalah Cimahi. Cimahi menjadi garnisun militer terbesar di Hindia Belanda.
Spoiler for Daendels:

Pramoedya Ananta Toer menggambarkan kenangan atas kota-kota, khususnya kota di tanah Priangan, yang dilalui Jalan Raya Pos begini, "Barang tiga kilometer ke tenggara, Jalan Raya Pos sampai ke Cimahi. Sebelum 1913, tempat ini bernama Cikolokot (tapi di catatan sejarah lain tertulis Cilokotot –Red). Perubahan nama terjadi setelah semasa pemerintahan Gubernur Jenderal van Heutsz, Bandung ditunjuk jadi tempat pemusatan tentara Hindia Belanda dan di Cikolokot dibangun tangsi besar KNIL dengan RS militer yang juga besar. Sejak itu Cimahi jadi kota militer.
Spoiler for Pramoedya Ananta Toer:

Demikian sedikit kenangan Pramoedya atas Cimahi. Catatan sejarah lainnya tertulis dalam situs resmi kota itu. Cimahi mulai dikenal pada tahun 1811 ketika Gubernur Jendral Herman Willem Daendels membuat jalan Anyer - Panarukan. Tuan Besar Guntur (Daendels) kemudian membuat pos penjagaan (loji) di lokasi yang kini menjadi Alun-alun Cimahi.

Antara tahun 1874 - 1893, Belanda membangun jalur kereta api Bandung-Cianjur dan bersamaan dengan itu Stasiun Cimahi pun ikut berdiri. Stasiun ini masih ada di sana. Selain membangun jalan kereta api itu, pada 1886, pusat pendidikan militer bersama fasilitas lain seperti rumah sakit, rumah tahanan militer juga disiapkan.
Spoiler for Stasiun Cimahi:

Setelah kemerdekaan Indonesia, Cimahi menjadi bagian dari Kabupaten Bandung Utara. Pada tahun 1962, dibentuk Kawedanaan Cimahi yang meliputi Kecamatan Cimahi, Padalarang, Batujajar, dan Cipatat. Berdasarkan PP Nomor 29 Tahun 1975, Cimahi ditingkatkan statusnya menjadi kota administratif pada tanggal 29 Januari 1976.

Rumah Sakit Dustira, dari tahun 1887, kini masih berdiri gagah, demikian pula rumah tahanan militer Poncol yang di dinding bagian atas pintu masuk tertulis angka 1886. Kini dengan tambahan 'kawasan terlarang". Saat saya, di bawah rintik hujan akhir pekan lalu, meminta izin mengambil gambar bagian muka, izin tak diberikan, "Harus ada izin dari pusat (Jakarta). Kita sudah sering kedatangan orang Belanda minta izin untuk ambil gambar, tetap enggak bisa," tandas soldadu yang menjaga rumah tahanan.
Spoiler for Rumah Sakit Dustira:

Sayang sekali. Kejadian seperti itu tak hanya terjadi di Cimahi. Di semua daerah di mana bangunan bersejarah dikuasai militer, maka warga tersendat mendapatkan sejarah dan keberadaan kota mereka sendiri. Segala aturan, tata cara, prosedur birokrasi nan panjang harus dilalui hanya untuk mengambil gambar sebuah gedung bersejarah yang bukan hanya milik militer tapi milik seluruh kota, bahkan bangsa ini.

Di saat kota-kota bersejarah, kota-kota di Indonesia sadar akan kekayaan pusaka (heritage) mereka, kesulitan bahkan hambatan akan datang dari urusan kepemilikan bangunan. Alhasil, pemeliharaan termasuk pemugaran bangunan yang potensial jadi atraksi wisata sejarah kota terkait, sulit dipantau. Lihat saja bekas tembok kota Batavia sisi Timur beserta gudang rempah di sana. Perhatikan, dari waktu ke waktu semua terkikis makin habis tak berbekas.

Kembali ke Cimahi, menjelajah kota ini mata saya bagaikan enggan berkedip karena hampir di tiap sudut, bangunan tua, bangunan bersejarah berserakan. Termasuk Gereja St Ignatius, kerkhof (pemakaman) Leuwigajah di sini terbentang pula kuburan Belanda - Ereveld Leuwigajah).
Spoiler for Ereveld Leuwigajah:

Kota Cimahi juga mendapat julukan sebagai "Kota Tentara" karena di kota ini banyak pusat pendidikan untuk tentara, di antaranya:
  • Pusat pendidikan artileri medan (Pusdikarmed)
  • Pusat pendidikan guru militer (Pusdikgumil)
  • Sekolah Pelatih Infanteri, Pusat pendidikan infanteri (Pusdikif)
  • Pusat pendidikan jasmani (Pusdikjas)
  • Pusat pendidikan peralatan (Pusdikpal)
  • Pusat pendidikan pembekalan angkutan (Pusdikbekang)
  • Pusat pendidikan polisi militer (Pusdikpom)
  • Pusat pendidikan perhubungan (Pusdikhub)
Spoiler for Pusdikpom:

Spoiler for Pusdikbekang:

belum lagi markas-markas tentara yang terdapat di situ yang jumlahnya pun cukup banyak, seperti:
  • Brigif 15/Kujang II
  • Pussenarhanud
  • Pussenarmed
  • Kiban Yonzipur 3
  • Kodim 0609/Cimahi
Spoiler for Bekas markas militer awal abad 20:

dan masih banyak lagi. Dengan banyaknya pusat pendidikan tentara dan fasilitas kemiliteran lainnya maka sekitar 60% wilayah Kota Cimahi digunakan oleh tentara. Mungkin karena itulah, kota Cimahi juga mendapat julukan "Kota Hijau", sesuai dengan warna seragam yang digunakan tentara khususnya dari angkatan darat (TNI-AD).

Namun keadaan demikian juga menimbulkan kesulitan tersendiri bagi pemerintah kota Cimahi. Ini disebabkan karena tanah dan bangunan yang digunakan oleh militer tersebut tidak dibayar pajak bumi dan bangunannya (PBB), sehingga pemerintah kota tidak mendapat masukan dari sebagian besar wilayahnya.

Penamaan kota Cimahi sebagai Kota Militer juga karena pemakaian nama-nama pahlawan sebagai nama jalannya. Sejak tanggal 10 November 2006, yang bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, sepuluh jalan di Kota Cimahi mengalami perubahan nama menjadi nama pahlawan dari Kota Cimahi. Kesepuluh jalan tersebut adalah:



Nio Joe Lan, menuliskan pengalamannya berpindah dari penjara di Boekit Doeri hingga dipindah ke kamp di Tjimahi selama sekitar 1,5 tahun mulai 16 Februari 1944 – 27 Agustus 1945 pada buku Dalem Tawanan Djepang.“Lampoe-lampoe terang di satoe stasioen. Kreta api brenti. Kita dapet prentah boeat toeroen – sasoeda doedoek berdesakan 1 hari 1 malem sampe kaki kakoe. Papan bord berboenji:Tjimahi.”Itu kisah kala pertama kali ia masuk Cimahi setelah mendekam di Serang. Setelah mendekam di dalam penjara, tentu berbeda berada di kamp, di mana ia bisa melihat rumput.“Boekan dalem boei lagi…Depan kamar saja ada satoe lapangan roempoet berdampingan sama satoe straat…Tida jaoe dari kamar saja… Ada tembok dengen perkatahan… Centrale Keuken atawa Dapoer Poesat dengen di kanan pengoendjoekan 4de Bataljon (Bataljon k-8) dan di kiri 9de Bataljon (Bataljon ke-9)

Intinya, sebagai kota militer,Cimahi berpotensi besar menjual kemiliteran kota ini. Hanya saja, tentu,sebagai kota wisata, harus ada kompromi pada urusan keramahtamahan,hospitality dari seluruh pihak di Cimahi.
Spoiler for Rumah Tua:




sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3057257

www.wijayafm.blogspot.com