Selasa, 19 Januari 2010

Misteri Di Balik Mimpi









impi itu sendiri memang misteri, namun di balik mimpi tersembunyi banyak misteri. Benarkah orang mampu melukai orang lain saat ia terbuai dalam tidurnya yang lelap?

Selama ini somnabulisme atau tindakan yang dilakukan orang saat tidur, diketahui hanya terbatas pada mengoceh (mengingau), berjalan, atau paling-paling makan sambil tidur (Intisari November 1982 dan April 1993). Banyak peneliti berpendapat serupa, somnambulisme terjadi pada fase tidak bermimpi, atau disebut tahap REM (rapid eye movement) di mana fungsi otot biasanya "lumpuh".


Mimpi membela diri

Namun pernah ditemukan, ada orang yang tidak mengalami "kelumpuhan" otot selama fase REM sehingga mereka melakukan tindakan yang sesuai dengan mimpi mereka. "Pengidap" penyimpangan tidur selama fase REM seperti itu cenderung melukai orang lain. Ini berbeda dengan somnambulisme yang justru cenderung mencelakakan diri sendiri.
Cukup banyak kasus muncul akibat penyimpangan itu, bahkan sampai pada terjadinya misalnya kasus pembunuhan. Pelakunya bisa siapa saja, bahkan yang sehari-harinya dikenal baik hati. Mereka tanpa sadar melukai korban, biasanya orang-orang dekat yang mereka cintai.

Ambil contoh saja, seorang wanita bermimpi rumahnya kebakaran. Namun yang terjadi, ia benar-benar melemparkan anak-anaknya ke luar jendela dari lantai atas untuk menyelamatkan mereka. Contoh lain, seorang pria menembak mati istrinya saat bermimpi sedang berhadapan dengan perampok di rumahnya. Hal serupa terjadi pada seorang gadis 16 tahun dari Kentucky, AS, yang dalam mimpi buruknya melihat beberapa penjahat masuk ke rumahnya. Ia segera bertindak dengan mengambil senapan berburu milik ayahnya untuk menembak para penjahat. Tapi tindakan itu berakibat fatal. Ayah dan adik laki-lakinya tewas, sementara ibunya luka parah.

Ada lagi kisah getir yang mirip naskah cerita film. Seorang detektif polisi terpaksa menyela liburannya di tepi pantai untuk membantu petugas hukum lokal menyelidiki kasus penembakan yang tampaknya tanpa motif. Penembakan itu sendiri terjadi di dekat penginapan sang detektif. Di TKP (tempat kejadian perkara) ia menemukan jejak kaki yang satu jarinya hilang .... Seketika ia gemetar, diakah pelakunya? Mungkinkah ia melakukan semua itu dalam tidur saat bermimpi menangkap penjahat, yang memang sering ia alami?
Yang perlu dilakukan kemudian oleh para penyidik, bagaimana membuktikan bahwa si pelaku beraksi dengan sadar. Sebab, bisa saja setiap pelaku tindak kejahatan berkilah, "Saya sedang tidur! Saya tidak sadar saat melakukannya!"

Menurut dr. Meir Kryger, pimpinan Klinik Penyimpangan Tidur di Winnipeg, Kanada, "Dalam kasus penyimpangan tidur sejati, si pelaku memang tidak dapat bertanggung jawab atas tindakannya. Namun, meski bebas dari tuntutan, ia tidak boleh dibiarkan bebas berkeliaran sampai perilaku menyimpangnya sembuh."
Lebih membingungkan lagi, psikiater dan ahli saraf tidak menemukan bukti adanya kelainan mental pada kasus-kasus kriminal semacam ini.





sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2038154

www.wijayafm.blogspot.com