Senin, 23 November 2009

Bayi Lahir Tanpa Dinding Perut .................





http://1.bp.blogspot.com/_3TC8-N--Aps/SwrB7a9rxJI/AAAAAAAABbU/POWI9lp20Dk/s1600/80450_bayi_cacat_tanpa_dinding_perut_di_jatim_300_225.jpg



Belum sempat memberi nama bayi laki-lakinya, pasangan Anis (17)-Shodik (27), harus mengalami duka mendalam. Soalnya, buah hati warga Wringinanom, Kec. Tongas, Kab. Probolinggo itu lahir tanpa dinding perut (gastro schizis).

Senin 23 November siang, bayi laki-laki dengan berat 1,95 Kg dan panjang 44 Cm itu dirujuk ke RSUD Dr Moch. Saleh, Kota Probolinggo. Sebelumnya, bayi yang dilahirkan di rumah dukun bayi, Ny.Djannah, warga Banjarsari, Kec. Sumberasih, Kab. Probolinggo, Minggu 22 November sore itu sempat dirawat di Puskesmas Tongas.

"Terus terang, kami sekeluarga sedih luar biasa menyaksikan kondisi anak seperti itu," ujar Anis. Hal senada diungkapkan Shodik, suami Anis, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani.

Anis menceritakan, awalnya dirinya bermaksud melahirkan di bidan Astatik atau bidan Indah di Wringinanom. "Mungkin karena hari Minggu, bu bidan tidak ada. Saya kemudian ke rumahnya dukun bayi, Bu Djannah di Banjarsari," ujarnya.

Minggu sekitar pukul 16.00, dengan pertolongan dukun Ny. Djannah, bayi laki-laki mungil terlahir. Begitu mengetahui kondisi bayi yang tanpa dinding perut, kegembiraan keluarga Anis-Shodik berubah jerit-tangis. "Semua yang menyaksikan kondisi bayi langsung menangis sejadi-jadinya," ujar Misri, kakak kandung Shodik, yang juga Budhe si bayi.

Keluarga Anis-Shodik tidak mengira anak pertamanya sejak ia menikah sekitar setahun lalu bakal terlahir dengan cacat bawaan. Apalagi, sebelumnya tidak ada tanda-tanda bayi tersebut usus dan lambungnya berada di luar perut. "Adik ipar saya biasa periksa di bidan Astatik," ujar Misri.

Usai melahirkan di rumah dukun bayi, Anis langsung pulang ke rumahnya di Wringinanom. Kondisi si ibu baik-baik saja, demikian juga selama mengandung. Sementara si bayi kemudian dibawa ke Puskesmas Tongas. Karena alasan ketersediaan peralatan medis, si bayi kemudian dirujuk ke RSUD Dr Moch. Saleh, Kota Probolinggo.

Sementara itu dr H Aminuddin SpOG MMKes yang dihubungi terpisah mengatakan, kasus bayi lahir tanpa dinding perut termasuk langka. "Penyebabnya sekitar 80 persen karena kelainan kongenital atau kelainan kromosom. Bisa juga penyebabnya karena obat, traumatik, atau infeksi tetapi sekitar 10 persen," ujar dokter spesialis kebidanan dan kandungan itu, Senin (23/11) sore.

Kelainan kromosom, kata dr Amin, bisa terjadi saat pembuahan (pertemuan sel telur dan sperma). Sedangkan infeksi rentan terjadi saat tiga bulan pertama usai pembuahan.

Disinggung mengapa cacat bawaan itu tidak diketahui saat sang ibu memeriksakan diri di bidan, dr Amin mengatakan, hal itu bisa diketahui melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG). "Kalau sang ibu tidak ada keluhan apa-apa selama mengandung, waktu periksa di bidan jelas tidak diketahui kasus bayi gastro schizis tersebut," ujar dr Amin.

Ditanya penanganan terhadap bayi tanpa dinding perut itu, dr Amin mengatakan, kalau "lubang" dinding perut itu kecil bisa "ditambal". "Mohon maaf, tanpa mendahului takdir Allah, biasanya bayi dengan kondisi seperti itu sulit bertahan hidup soalnya gampang terkena infeksi," ujar Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Probolinggo itu.

Hingga Senin (23/11) sore, bayi mungil itu masih dirawat di Ruang Dahlia, RSUD Dr Moch. Saleh, Kota Probolinggo. Pada bagian perutnya terlihat ditutup pembalut berwarna putih. "Ia tidur pulas, seperti bayi-bayi normal lainnya," ujar seorang perawat. *


• VIVAnews




sumber :http://ogettego.blogspot.com/2009/11/bayi-lahir-tanpa-dinding-perut.html

www.wijayafm.blogspot.com